Rabu, Maret 16, 2011

Tiap Anak Jenius, Betulkah . . .???

Banyak orang tua yang berupaya segala cara agar si buah hati sepintar Albert Einstein.

Sejumlah orang tua di Sumatra Barat berbondong-bondong menjual ternak, sawah, dan bahkan mengijonkan ikan mereka yang belum waktunya panen. Sementara itu, di Bandung, Jawa Barat, orang tua sibuk mencari sepuluh kawannya yang memiliki anak usia SD atau SMP. Tujuan mereka sama, ingin mengikutsertakan buah hatinya dalam kegiatan aktivasi otak tengah (AOT).

Konon, banyak manfaat yang bisa dipetik anak dari AOT. Penyelenggara mempromosikan anak yang otak tengahnya telah diaktivasi, akan tampil santun, religius, seimbang secara hormonal, lebih konsentrasi, dan bisa membaca dengan mata tertutup. Klaim yang paling dahsyat: mencetak anak jenius!

Yuliany, ibu dua putra, memahami jenius adalah bawaan genetik. Melalui beragam bacaan yang dilahapnya sejak awal pernikahannya tujuh tahun silam, ia menyimpulkan tidak semua anak dapat menjadi jenius. "Memangnya, kejeniusan bisa dikarbit?" tanyanya penasaran.

Doktor antropolog kesehatan Julia Maria van Tiel menggeleng. Pemahaman jenius secara ilmiah sesungguhnya didukung oleh berbagai penelitian panjang di berbagai bidang ilmu. "Waktu risetnya lebih dari seratus tahun."

Dalam ilmu psikologi, lanjut Julia, istilah jenius hanya diberikan kepada mereka yang mempunyai tingkat inteligensi luar biasa. IQ-nya tergolong dalam kategori very superior, atau dua standar deviasi di atas rata-rata. "Besaran IQ itu ditunjang pula dengan kreativitas yang luar biasa dan prestasi yang luar biasa."

Sebagai contoh, Julia menunjuk Albert Einstein, Vincent Van Goh, Rembrandt, Johann Sebastian Bach, dan Thomas Alva Edison. Lantas, siapa yang bisa masuk dalam kelompok seperti tiga tokoh penting tersebut? "Tidak semua orang, tentunya," kata Julia.

Inteligensi luar biasa adalah sebuah hal yang diturunkan. Faktor genetik merupakan salah satu penentu. "Namun demikian, anak yang memiliki gen ini membutuhkan dukungan lingkungan agar ia bisa menghasilkan prestasi luar biasanya sebagai karya jenius," urai Julia yang juga pembina di situs anakberbakat@ yahoogroups. com itu.

Karya jenius tentunya haruslah bersifat orisinal. Ini merupakan wujud pengembangan inteligensi dengan kreativitas yang tinggi serta dikembangkannya sendiri. "Seseorang yang hanya meniru atau mengikuti perintah sebagaimana anak-anak yang dilatih dalam kegiatan aktivasi otak tengah itu, dalam ilmu psikologi tidak dapat dikategorikan sebagai anak jenius," cetus Julia yang juga penulis buku.

Julia mengatakan, pihak-pihak yang mengimingi masyarakat dengan menawarkan jalan tol menuju kejeniusan telah melakukan praktik penipuan. Mereka sama saja menisbikan dan menolak keragaman yang terdapat pada tiap-tiap individu. "Klaim mereka bertentangan dengan ragam teori dan kepustakaan ilmiah di bidang tumbuh kembang kognisi manusia (cognitive and learning theories)," ucap Julia.

Keragaman antarindividu ditentukan oleh potensi dasarnya. Itu akan memengaruhi gaya belajar, cara berpikir, dan cara menyerap suatu informasi. "Kejeniusan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan," tandas Julia. ed: nina chairani




Salah Istilah, Salah Kaprah

Kecerdasan memiliki makna yang berbeda dengan bakat. Tingkat kecerdasan berkaitan dengan IQ. "Anak yang memiliki keunggulan di bidang olahraga, musik, atau social, disebut memiliki bakat," jelas psikolog A Kasandra Putranto.

Bakat bisa digali dan diasah. Kecerdasan pun perlu dioptimalkan melalui proses latihan dan stimulasi yang telah terbukti secara ilmiah. Itulah tugas besar orang tua. "Kita harus mendampingi anak-anak agar mereka dapat mengeluarkan potensi terbaik yang dimilikinya, " cetus psikolog klinis ini.

Tengok saja Michael Phelps. Di arena kejuaraan renang dunia, namanya teramat disegani. Dialah pemecah rekor renang di ajang Olimpiade. "Phelps bukan anak jenius. Attention deficit disorder (ADD) menghambat prestasi akademisnya, namun dalam bidang olahraga renang dia berprestasi, " tutur Kasandra.

Beberapa tokoh teori kecerdasan mungkin saja memiliki argumentasi yang berbeda. Howard Gardner, misalnya. "Ia meyakini bahwa bakat juga merupakan komponen kecerdasan, antara lain kecerdasan fisik, musik, bahasa, interpersonal, dan naturalistik, " imbuh Kasandra.

Orang tua semestinya tidak melulu menuntut anaknya unggul di bidang akademis. Apalagi, faktor genetik berpengaruh pada daya tangkap anak. "Bagaimana dengan anak-anak yang IQ-nya rata-rata atau di bawah rata-rata? Apakah mereka tidak ada artinya hanya karena keterbatasannya di bidang akademis?" tanya Kasandra retoris.

Tingkat kecerdasan yang lebih rendah sebenarnya hanya berarti bahwa mereka perlu berusaha lebih keras dibandingkan mereka yang memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi. Hal ini terbukti dalam pengamatan Kasandra terhadap klien-kliennya selama ini. "Dengan upaya yang lebih keras, mereka bisa tetap mencapai prestasi."

Kasandra menyarankan agar orang tua memahami profil anaknya dan menghargai keunikannya dengan anak lain. Anak tidak harus jenius. "Banyak contoh orang bisa tetap 'menjadi' tanpa membawa gen jenius."

Kasandra juga mengatakan tidak penting memaksakan anak menjadi jenius, tetapi lebih baik mendampingi dan membantu mereka untuk menemukan potensi dan melatihnya agar dapat berprestasi. ed: nina chairani



Petunjuk Awal Si Jenius

Bagaimana ciri anak jenius? Banyak criteria disodorkan. Berikut tanda-tanda awalnya, seperti yang dirumuskan American Association of Gifted Children dari Duke University:
- Belajar dengan cepat dan mengingat dengan mudah
- Terlihat lebih matang dari usianya
- Perbendaharaan katanya luas, menunjukkan minat yang tak lazim terhadap kata-kata atau sudah membaca sesuai keinginannya sendiri
- Melakukan uji coba sendiri untuk menyelesaikan masalah
- Lebih menyukai teman yang lebih tua
- Cenderung sensitif
- Menunjukkan semangat keingintahuan
- Menunjukkan rasa sayang pada manusia dan binatang
- Menyukai puzzle, teka-teki, dan angka
- Cenderung suka mempertanyakan kekuasaan
- Mudah bosan
- Energetik

Apakah si kecil memiliki beberapa karakteristik di atas? Bila ya, para ahli di Duke University menyarankan orang tua untuk membawa sang anak kepada pakar perkembang an anak.
Seperti mengembangkan bakat pada anak dengan kecerdasan biasa, para ahli memberi kan saran tak jauh beda pada orang tua si jenius. Saran mereka, orang tua bisa membantu memelihara bakat alami anak dengan membacakan buku dan memperkenalkan pada seni, musik, alam, dan olahraga. americanbaby.com/nina ch

sumber: www.indi-smart.com (http://koran.republika.co.id/koran/0/127763/Tiap_Anak_ Jenius_Betulkah)

Selasa, Maret 08, 2011

Sirsak Penjinak Kanker

Sirsak Penjinak kanker
Buah sirsak telah diteliti dan dikembangkan sebagai bahan baku obat kanker, terutama kanker prostat, pankreas, dan paru-paru. Sebuah perusahaan di Amerika rela mengucurkan miliaran dolar demi membuktikan khasiat sirsak sebagai pembunuh sel kanker yang efektif dan jauh lebih aman ketimbang terapi kemo. Sayang, hingga kini obat tersebut masih dirahasiakan.

Saat ini jumlah penderita kanker memang terus bertambah, dan belum ada solusi yang dianggap minim efek samping. Sementara dalam penemuan itu disebutkan, obat berbahan baku buah sirsak ini memiliki manfaat 10 ribu kali lebih kuat daripada kemoterapi.

Sepuluh ribu kali lebih kuat

Semua itu berawal dari penelitian di Universitas Purdue, Amerika Serikat, yang berhasil membuktikan buah sirsak efektif membunuh sel-sel kanker. Sayangnya, hasil penelitian itu belum bisa dirilis kepada publik.

Bicara soal kehebatan buah sirsak atau graviola, sebenarnya telah lama dilaporkan lembaga-lembaga penelitian di AS. Health Sciences Institute, AS, pada awal tahun 2000 mengungkapkan, buah yang dalam Spanyol disebut graviola itu memiliki kemampuan sebagai pembunuh alami sel kanker, bahkan hingga 10 ribu kali lebih kuat dari kemoterapi yang menggunakan zat kimia.

Selain menyembuhkan kanker, buah sirsak juga berfungsi sebagai antibakteri, antijamur, dan efektif melawan berbagai jenis parasit atau cacing. Sirsak juga efektif menurunkan tekanan darah tinggi, depresi, stres, dan menormalkan kembali sistem saraf yang terganggu.

Penelitian Health Sciences Institute diambil berdasarkan kebiasaan suku Indian yang hidup di hutan Amazon. Beberapa bagian dan pohon ini, seperti kulit kayu, akar, daun, daging buah, dan bijinya, selama berabad-abad dijadikan obat oleh suku bangsa itu. Graviola atau sirsak diyakini masyarakat Amazon sebagai obat sakit jantung, asma, gangguan fungsi lever (hati), dan rematik.

The National Cancer Institute telah melakukan penelitian terhadap graviola sejak tahun 1976. Uji coba itu dilakukan di 20 laboratorium independen yang berbeda di bawah pengawasan The National Cancer Institute.

Memburu hanya sel jahat

Di Asia, penelitian serupa dilakukan di Korea Selatan. Suatu studi yang dipublikasikan dalam the Journal of Natural Products menyatakan, studi yang dilakukan di Catholic University di Korea Selatan menyebutkan bahwa salah satu unsur kimia bernama annonaceous acetogenin yang terkandung di dalam graviola, mampu memilih, membedakan, dan membunuh sel kanker yang berkembang di usus besar.

Penemuan yang mencolok dari studi tersebut adalah bahwa zat antikanker itu juga mampu menyeleksi dan membunuh hanya sel jahat kanker, sedangkan sel yang sehat tidak tersentuh.

Bandingkan dengan kemoterapi, yang selama ini digunakan untuk mengobati penderita kanker yang tidak bisa membedakan sel kanker dan sel sehat. Sel-sel reproduksi (seperti lambung dan rambut) dibunuh habis dalam kemoterapi. Dampaknya, timbul efek negatif berupa rasa mual, rambut rontok, dan penurunan berat badan secara drastis.

Selain itu, keampuhan buah sirsak adalah melindungi sistem kekebalan tubuh dan mencegah infeksi yang mematikan. Dampaknya bagi penderita kanker adalah energi mereka semakin meningkat dan penampilan fisik semakin membaik.

Daun direbus

Di Indonesia, sirsak sebagai obat alami juga sudah lama dikenal. Dosis yang pernah dicoba para terapis herbal untuk mengatasi pertumbuhan sel kanker adalah 10 helai daun sirsak yang telah hijau tua direbus dengan 3 gelas air (600 cc), dan dibiarkan hingga tersisa satu gelas air (200 cc). Setelah dingin, lalu disaring dan airnya diminum setiap pagi (ada beberapa pasien yang minum pagi-sore).

Efek dari konsumsi rebusan daun sirsak adalah perut terasa hangat atau panas, lalu badan akan berkeringat deras. Perlu dipahami bahwa penggunaan ramuan herbal tidak berkhasiat langsung atau cespleng alias sembuh seketika seperti efek yang ditawarkan obat kimia. Artinya, butuh kedisiplinan untuk minum ramuan selama 3-4 minggu.

Mengingat keampuhan tersebut, alangkah indahnya jika hasil penelitian ilmiah bisa diketahui publik dan menjadi dasar digunakannya sirsak sebagai obat kanker, agar memberi secercah harapan bagi para penderita penyakit yang mematikan ini.

Forum.Sains.com